Sabtu, 07 Februari 2015


Sepatu

".... Kita adalah sepasang sepatu
Selalu bersama, tak bisa bersatu
Kita mati bagai tak berjiwa
Bergerak karena kaki manusia
Aku sang sepatu kanan
Kamu sang sepatu kiri ...."

Kira-kira begitulah petikan lirik lagu "Sepatu"-nya Tulus. Hmm.. Aku suka lagu ini? bisa dibilang lumayan. kalau di baca liriknya cukup menyakitkan, tapi Tulus mengemas lagu ini dengan irama yang tidak terlalu menyedihkan.

Aku ingin bercerita sedikit tentang sepatu. Mendengar Tulus menyanyikan lagu ini aku jadi teringat dengan beberapa "sepatu-sepatu" yang bersejarah. Sekedar pemberitahuan, sebenarnya aku bukan seseorang yang tergolong fashionista, Aku tak paham dengan merek sepatu, bagiku pokoknya kalau beli sepatu cocok dengan kantong dan yang terpenting cocok sama kebutuhannya, contohnya kalau musim hujan ya beli sepatu karet, maklum jaman kuliah dulu kampus masih sering kebanjiran. Alhamdulillah aman terjamin.

Kembali pada sepatu kenangan. Ceritanya aku pernah memiliki "sepatu" yang pernah menemani langkah. Sebentar.. meski hanya sebentar. Namanya sepatu kiri. Kenapa sepatu kiri? karena aku sepatu kanannya. Dia adalah seorang teman yang aku kenal. Kami awalnya tak terlalu dekat, bisa di bilang seperti teman kebanyakan. Aku mulai akrab dengan dia di akhir Desember 2014, saat aku berkonsultasi karir dengannya melalui salah satu aplikasi mesenger, karena di bandingkan dengan teman-teman yang lain, dia cukup sukses di usianya yang relatif masih muda.

Pada suatu hari kami bertemu pada suatu acara. Tapu dia tidak menyapaku. Aku sedikit aneh dengannya, padahal baru semalam aku chat dengan dia dan semua baik-baik saja. Terlebih lagi karena dia bisa di bilang anak cukup hebring kalau bertemu teman-temannya, termasuk ketika bertemu aku. Hingga akhir acara dia mendiamkan aku, bahkan sepertinya melihat saja tidak. Aku pun ikut diam dan tidak berbicara dengannya, sambil berfikir kesalahan apa yang mungkin telah aku perbuat. Aku baca satu persatu chat ku dengannya semalam, aku pikir tak ada masalah. Lalu kenapa dia seperti itu? Ada apa denganmu? #sing

Sepulang acara, aku memberanikan diri memulai chat dengannya,

"Hai, Baksonya enak sepertinya"
"Mianhe"
"Why?"
"Maaf gak ngajak ngomong, malu"

Gubraakkk?? Helloowww?? seorang seperti dia malu?

"Malu kenapa?"
"Ya pokonya malu, kalau ketemu gimana gitu"
"Yaelah.. sama teman sendiri malu, biasanya malu-maluin"

Hahaha.. aku gak jadi galau. Sumpah sepatu kiri ini bikin aku kepingin ngitungin biji beras sekarung deh.


Lanjut besok ya.. mau pulang dulu

Kamis, 06 November 2014


Happy Birthday Symphony

Happy Birthday Symphony.. 
Baarakallah fi umrik

Mungkin hanya itu yang kali ini biasa aku ucapkan
tak seperti setahun sebelumnya, saat begitu banyak untaian doa dan pengharapan yang tiada henti Aku kirimkan padanya

Itu setahun lalu.. Tepat setahun yang lalu..

"Da, Bagusan yang mana kuenya?"
"Terserah kamu nduk, yang ini enak kayaknya"
"Hmm... oke deh, skalian ukuran besar aja ya da.. kira-kira untuk ngerayain sama anak-anak PPL cukup kan?"
"Iyo nduk, manut a"

Sabtu, 25 Oktober 2014


Pemilihan Kepala Suku

Danau Unesa Kampus Ketintang belum semegah semegah sekarang, masih baru selesai tahap pembangunan pertama kala itu. Aku memandang pohon yang masih baru ditanam di tengah danau sebagai rumah burung dara. Daun-daunnya mulai bertunas. Sama dengan kisah ini, kenangan-kenangnnya mulai terukir.

Aku dan Leilia memarkir motor di barat danau Unesa, tepat di depan Masjid Baiturrahman Unesa Ketintang yang sebenarnya area terlarang untuk parkir. Lebih mainstream lagi parkirnya tepat dibawah Plang P yang dicoret. Mahasiswa teladan. Diseberang sana Reza dan Lestari berdiri berdua. Aku sempat berfikir, mereka ini pacaran kah? saat pembekalan mereka datang berdua, sekarang ini juga. Aku mulai KEPO


Rumput Tetangga Memang Lebih Menggoda

Aroem Primastiwi, Jimbrut Jelex, Ismi Hidayati. Dengan pemilik akun-akun Facebook inilah hari ini Aku mau ketemuan, ciyee ketemuan ciyee... Dua anak dari Pendidikan Bahasa Jawa, dan Satunya dari Pendidikan Seni Rupa. Sementara ini hanya mereka yang Aku tahu bakalan mengukir 3 bulan kebersamaan di Jabon, selain ke tiga teman sejurusanku yang sudah Aku kenal tentunya, berarti masih ada 11 manusia lagi yang masih misterius, siapakah mereka?.

Jangan lupa nanti pake baju batik kelas ya Rek... SMS dari Arda. Sejurus kemudian kulihat kalender di Hp ku. Kalender digital, maklum anak kos.

Kamis, 4 Juli 2014 Jam 11.00 - 12.00
Pembekalan Mahasiswa PPL II - SMPN 1 Jabon & SMPN 1 Wonoayu
Dosen Pembimbing : Dr. Urip Zaenal Fanani, M.Pd (Dosen Bahasa Jepang FBS Unesa)
Tempat : Ruang A1.03.01 Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya



Hai Jabon, Beri Kami Kenangan

"Mbak, datang ke sekolah kok yang di cari Pak Bon bukan kepala sekolah". Celetuk seorang guru yang gak sempat aku lihat wajahnya. Aku cuma bisa ngelirik Arda, seolah-olah ngasih isyarat OMG hello.. trus kita kudu piye? Udah salah kostum datang kesekolah 'calon' tempat kita PPL pake Jeans, sekarang dimarahin gara-gara datang ke sekolah untuk nyari seorang Pak Bon. Arda malah lebih parah, pake Jeans sama kaos pula. Kita cuma bisa nyengir. Ya.. kita niatnya kan emang nyari kos dan gak kepikiran mau silaturrahim ke sekolah sih.

SMPN 1 Jabon, Sekolah Mengengah Pertama yang terletak di Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Saat melihat pengumuman penempatan lokasi mahasiswa PPL Aku berfikir, Sidoarjo ya? hmm.. gak jauh beda dari Surabaya kali ya?. Nak-kanak dengan dandanan necis dan gaya kece ala anak-anak kota umumnya. TEETTT... ternyata fikiran saya salah. Sidoarjo sih Sidoarjo, tapi Jabon ini lebih ke 'ndeso' nya Sidoarjo.